Search

0 komentar

Syirik Kufu Nifak Fasik by Achmad Komari

0 komentar

FAKTA SHALAWAT NARIYAH by Achmad Komari

makalah metode pembelajaran

0 komentar

Makalah Psikologi Belajar: Perkembangan Psiko Fisik

0 komentar


Tugas Makalah
HUBUNGAN ANTARA
PERKEMBANGAN DENGAN BELAJAR
(PERKEMBANGAN PSIKO-FISIK SISWA)

Disusun
Ahmad Komari :1111010003

Dosen: Dwi Hapsari Utami, S.Psi
Mata Kuliah: Psikologi Belajar

index - Copy.jpg

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI RADEN INTAN
LAMPUNG 2012 / 2013
HUBUNGAN ANTARA PERKEMBANGAN
DENGAN BELAJAR

A.  PERKEMBANGAN PSIKO-FISIK SISWA
            Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu fungsi organ jasmaniah, perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik.[1]
            Menurut Reni Akbar Hawadi (2001), perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru.[2]
            Perkembangan pada prinsipnya merupakan rentetan perubahan jasmani dan rohani (fisio-psikis) manusia yang menuju ke arah yang lebih maju dan sempurna. Proses-proses perkembangan yang berkaitan dengan kegiatan belajar diantaranya:

1.      Motor Development (Perkembangan Motor) Siswa
            Dalam psikologi, motor digunakan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan pada otot-otot dan gerkan-gerakannya, juga kelenjar-kelenjar dan sekresinya. Dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang menigkatkan atau menghasilkan stimulasi / rangsangan terhadap organ-organ fisik. Motor Development (perkembangan motor) merupakan perkembangan progresif dan berhubungan dengan aneka ragam keterampilan fisik anak (motor skills).
Keterampilan motorik (Motor skill). Orang yang memiliki keterampilan motorik mampu melakukan suatu gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu.[3]
Faktor-faktor yang mendorong perkembangan motor skills yang juga memungkinkan campur tangan orang tua dan guru dalam mengarahkannya[4], yaitu:
a.       Pertumbuhan dan perkembangan sistem syaraf
            Pertumbuhan syaraf dan perkembangan kemampuannya membuat intelegensi anak meningkat dan mendorong timbulnya pola-pola tingkahlaku baru. Semakin baik perkembangan system syaraf seorang anak akan semakin baik dan beraneka ragam pula pola-pola tingkah laku yang dimikinya
b.      Pertumbuhan otot-otot
            Penigkatan tonus (tegangan otot) anak dapat menimbulakan perubahan dan penigkatan aneka ragam kemampuan dan kakuatan jasmaninya. Pendayagunaan otot-otot tersebut tergantung pada kualitas pusat system syaraf dalam otaknya
c.       Perkembangan dan pertumbuhan fungsi kelenjar-kelenjar endoktrin (endocrine glands).
            Kelenjar endokrin secara umum merupakan kelenjar dalam tubuh yang memproduksi dalam hormon yang disalurkan ke seluruh bagian dalam tubuh melalui aliran darah. Lawan endokrin adalah eksokrin (excocrine) yang memiliki pembuluh tersendiri untuk meyalurkan hasil sekresinya (proses pembuatan cairan atau getah)seperti kelenjar ludah (Gleitman, 1987). Perubahan fungsi kelenjar akan mengakibatkan berubahnya pola sikap dan tingkah laku seorang remaja terhadap lawan jenisnya.
d.      Perubahan struktur jasmani
            Pengaruh Perubahan fisik seseorang juga tampak pada sikap dan perilaku terhadap orang lain, karena perubahan fisik itu sendiri mengubah konsep diri (self concept) siswa tersebut. Self concept ialah totalitas sikap dan presepsi seseorang terhadap dirinya sendiri.

2.      Cognitive Development (Perkembangan Kognitif) Siswa
            Cognitive berasal dari kata cognition yang pandannya Knowing, berarti mengetahui, dalam arti yang luas cognition ialah perolehan, penataan dan penggunaan pengetahuan (Neiser, 1976).
Kognitif adalah perkembangan fungsi intelektual atau proses perkembangan kemampuan atau kecerdasan otak anak.[5]
Istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain atau wilayah/ ranah psikologis manusia yang meliputi setiap prilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecah masalah, kesenjangan, dan keyakinan. Aktivitas ranah kognitif juga mempengaruhi bekal dan modal dasar perkembangan manusia, yakni kapasitas motor dan kapasitas sensori. Aktifitas ranah kognitif manusia itu pada prinsipnya sudah berlangsung sejak masa bayi, yakni rentang kehidupan antara 0-2 tahun.[6]
            Ranah Kognitif (cognitive domain) menurut Bloom Dan Kawan-Kawan[7] adalah:
a.       Pengetahuan: Mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan
b.      Pemahaman: mencakup pengetahuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari
c.       Penerapan: mencakup kemampuan untuk menagkap kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus/ problem yang konkret atau baru
d.      Analisis: mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga setruktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik
e.       Sintesis: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru
f.       Evaluasi: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai suatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu, yang berdasarkan criteria tertentu.


            Sedangkan perkembangan kognitif, menurut Jeen Piaget, pakar disiplin psikologi kognitif dan psikologi anak mengklasikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan, yaitu:
a.       Tahap Sensori-Motor (0 – 2 tahun)
Pada umumnya bayi yang berusia dibawah usia 18 bulan, belum memiliki Object permanence. Artinya benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar selalu dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada ditempat lain.[8]
            Ketika seorang bayi berinteraksi dengan lingkungannya, ia akan mengasimilasi sekema sensori motor sedemikian rupa dengan mengarahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya.
            Pada fase ini aktivitas kognitif didasarkan pada pengalaman langsung dari panca indra.[9]
b.      Tahap Praoperasional (2 – 7 tahun)
            Pada tahap ini anak akan merepresentasikan dengan kata-kata dan gambar-gambar. Kata-kata dan gamabar-gambar ini menunjukan adanya penigkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi dan sensor dan tindak fisik.[10] Perkembangan ini bermula ketika anak telah memiliki penguasaan sempurna mengenai object permanence.
            object permanence (ketetapan adanya benda) adalah hasil dari munculnya kapasitas kognitif baru yang disebut dengan representation atau  mental representation (gambaran mental). Representation adalah sesuatu yang mewakili atau menjadi symbol atau wujudnya sesuatu yang lainnya. Representasi mental  merupakan bagian penting dari sekema kognitif yang memungkinkan anak berpikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada diluar pandangan, pendengaran, atau jangkauan tangannya.[11]
            Represntasi mental juga memungkinkan anak untuk mengembangkan deferred-imitation (peniruan yang tertunda), yakni kapasitas menerima perilaku orang lain yang sebelumnya pernah ia lihat untuk merespon lingkungan.  Perilaku-perilaku yang ditiru terutama perilaku-perilaku orang lain (khususnya orang tua dan guru) yang pernah ia lihat ketika orang itu merespon barang, orang, keadaan, dan kejadian yang dihadapi pada masa lampau. Seiring munculnya kapasitas deferred imitation, muncul pula gejala Insight-learning, yakni gejala belajar berdasarkan tilikan akal.
            Sekema kognitif anak yang masih terbatas itu ialah bahwa pengamatan dan pemahaman anak terhadap situasi lingkungan yang ia tanggapi sangat ditanggapi oleh watak egocentrism. Maksudnya anak tersebut belum bisa memahami pandangan-pandangan orang lain yang berbeda dengan pandangannya sendiri. Gejala ini disebabkan masih terbatasnya conservation (koservasi/ pengekalan) yakni operasi kognitif yang berhubungan dengan pemahaman anak terhadap aspek dan dimensi kuantitatif materi lingkungan yang ia respon.
c.       Tahap konkret operasional (7 – 11 tahun)
            Anak saat ini dapat berfikir seara logis tentang peristiwa yang konkrit dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.[12] Pada fase ini bentuk aktivitas dapat ditentukan dengan peraturan yang berlaku dan anak masih berpikir harfiah sesuai dengan tugas-tugas yang diberikannya.[13]
Pada tahap konkret operasional terdapat system operasi kognitif[14] yang meliputi:
1). Conservation
Conservation (konservasi/ pengekalan)adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek kumulatif materi, seperti volume dan jumlah.
            2). Addition of classes
Addition of class (penambahan golongan benda) yakni kemampuan anak dalam memahami cara mengombinasikan beberapa golonagan benda
3). Multiplication of classes                                  
Multiplication of classes (pelipat gandaan golongan benda),  yakni kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda.
d.      Tahap formal operasional (11 – 15 tahun)
            Pada fase ini, anak telah mampu mengembangkan pola-pola berpikir formal, mampu berpikir logis, rasional, dan bahkan abstrak. Mampu menangkap arti simbolis, kiasan dan menyimpulkan suatu berita dan sebagainya.

3.      Social and Moral Development
Social And Moral Development (perkembangan sosial dan moral) siswa adalah proses perkambangan mental yang berhubungan dengan perubahan-perubahan cara anak dalam berkomunikasi dengan obyek atau orang lain, baik sebagai individu maupun sebagi kelompok.[15] 
Sedangkan menurut Bruno (1987) perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social-self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa dan seterusnya. Dan Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan sama dengan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.
a.       Perkembangan social dan masyarakat versi piaget dan Kohlberg
Piaget dan Kohlberg menekankan bahwa pemikiran moral seorang anak, terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sementara itu, lingkungan social adalah pemasok materi mentah yang akan diolah oleh ranah kognitif anak tersebut secara aktif.
Teori dua tahap perkembangan moral versi piaget, yang antara tahap pertama dan kedua diselingi dengan masa transisi[16], yaitu;
1.      Realisme Moral, (dalam tahap perkembangan kognitif pra-operasional) yang berlangsung pada usia 4-7 tahun dengan cirri khas: memusatkan pada akibat-akibat perbuatan, aturan-aturan dipandang tak berubah, dan hukum atas pelanggaran bersifat otomatis
2.      Masa Transisi, (dalam tahap perkembangan konkret-operasional) yang berlangsung pada usia 7-10, memiliki cirri khas: perubahan secara bertahap kearah pemikiran moral tahap ke dua.
3.      Otonomi, Realisme dan resiprositas moral, (dalam tahap perkembangan kognitif formal-operasional), berlangsung pada usia 11- tahun keatas, dan memiliki cirri khas: mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral dan menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisiyang dapat berubah.
Adapun menurut Kohlberg, perkembangan social dan moral manusia itu terjadi dalam tiga tingkatan besar[17], yakni;
1.      Tingkat moralitas Prakonvensional, yaitu ketika manusia berada dalam perkembangan prayuwana (usia 4-10 tahun) yang belum menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi social. Yang mengalami dua tahap perkembangan yaitu; memperhatikan ketaatan dan hukum dan memperhatikan pemuasan kebutuhan
2.      Tingkatan moralitas konvensional, yaitu ketika manusia menjelang dan mulai memasuki fase perkembangan yuwana (usia 10-13 tahun) yang sudah menganggap moral sebagai kesepakatan tradisi sosial. Mengalami dua tahap perkembangan; memperhatikan citra “anak baik” dan memperhatikan hukum dan peraturan
3.      Tingkatan moralitas pasca konvensional, yaitu ketika manusia memasuki fase perkembangan yuwana dan pasca yuwana (usia 13 tahun ke atas)yang memandang lebih dari sekedar kesepakatan tradisi sosial. Tingkatan ini juga mengalami dua tahap perkembangan yaitu; memperhatikan hak perseorangan dan memperhatikan prinsip-prinsip etik.
b.      Perkembangan social dan moral versi teori belajar[18]
            Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral siswa ditekankan perlunya Conditioning (pembiasaan merespon) dan Imitation (peniruan).
            Conditioning. Menurut prinsip-prinsip kondisioning, prosedur belajar dalam mengembangkan perilaku sosial dan moral, pada dasarnya sama dengan dengan prosedur belajar dalam mengembangkan prilaku-perilaku lainnya, yakni dengan reward (ganjaran/ member hukuman) dan punishment (hukuman/ member hukuman)
            Imitation. Prosedur lain yang juga penting dan menjadi bagian yang integral dengan prosedur-prosedur belajar menurut teori belajar Social learning, yaitu proses imitasi atau peniruan









DAFTAR PUSTAKA

Desmita. 2007. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Muhibbin Syah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers
W.S. Winkel. 1996. Psikologi pengajaran. Jakarta: Grasindo
Zulkifli L. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya




[1] Muhibbin Syah. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Pers. Hlm. 11
[2] Desmita. 2007. Psikologi Perkembanga. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm. 4
[3] W.S. Winkel. 1996. Psikologi pengajaran. Jakarta: Grasindo Hlm. 103
[4] Muhibbin Syah, 2011, Op. Cit. Hlm, 17-21
[6] Muhibbin Syah. Op. Cit. Hlm, 22-23
[7] W.S. Winkel, 1996, Op. Cit. Hlm, 247
[8] Muhibbin Syah Op. Cit. Hlm 27
[9] Zulkifli L. 2005. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hlm 21
[10] Desmita. Op. Cit. Hlm 47
[11] Muhibbin Syah. Op. Cit. Hlm 28
[13] Zulkifli L. Loc. Cit.
[14] Muhibbin. Op. Cit. Hlm. 31-32
[16] Muhibbin Syah. Op. Cit. Hlm. 39
[17] Muhibbin Syah. Op. Cit. Hlm. 41
[18] Muhibbin Syah. Op. Cit. Hlm, 42-44